Alkisah, ada seorang pemuda yang sedang duduk di bawah pohon yang rindang. Raut wajah pemuda tersebut tamapak lemas, sedih, kecewa dan marah. Tiba-tiba dia melihat seekor laba-laba sedang membuat sarangnya diantara ranting pohon yang dia sandari. Karena dia sedang kesal maka dengan iseng mengambil sebuah ranting pohon yang berada disampingya, lalu dia menumpahkan kekesalannya dengan merusak sarang yang sedang dibuat oleh laba-laba tersebut hingga hancur.
###
Namun apa yang dilakukan laba-laba tersebut? Si laba-laba tersebut mencoba merayap naik ke atas pohon dan mencoba lagi membuat sarang diantara ranting-ranting pohon tadi. Karena masih kesal si anak tersebut menumpahkan lagi kekesalannya dengan merusah lagi sarang tersebut. Namun lagi-lagi laba tersebut kembali merayap, dan kembali membuat sarangnya kembali. Begitu seterusnya yang dilakukan oleh si laba-laba setiap kali si pemuda tersebut merusaknya.
Kisah laba-laba dengan seorang pemuda tersebut mengambarkan sebuah jiwa dari seorang entrepreuner (wirausaha) sejati. Pak Ciputra, seorang Begawan entrepreuner terkenbal di tanah air pernah berkata, “ janganlah menghitung berapa kali anda gagal, tapi hitunglah berapa kali anda bangkit”. Yaaah, entrepreuner sebuah kata yang akhir-akhir ini kembali popular di Indonesia, banyak entrepreuner tanah air yang telah sukses akhir-akhir ini menggalangkan dan mempopulerkan lagi kata tersebut. Di tanah air ini sudah banyak masalah mengenai kesejahteraan, dan pemerintah sepertinya sudah mentok dengan jalan keluar yang dibuatnya.
Dan tak salah jika Presiden SBY mencanangkan pada tanggal 2 Februari sebagai Gerakan Kewirausahan Nasional (GKN) . menurut beliau entrepreuner merupakan rujukan, kata kunci, bahkan solusi atas persoalan akut negeri ini, seperti pengangguran dan kemiskinan.
Pada hakikatnya entrepreuner sendiri merupakan sebuah cara pandang (a world view), cara melihat segala sesuatu. Inilah yang belum banyak dipahami oleh banyak pembelajar entrepreuner. Mereka berpikir jika entrepreuner merupakan suatu kegiatan berdagang, padahal tidak. Padahal, dagang belum tentu entrepreuner, tetapi entrepreuner sudah pasti dagang. Tau dimana perbedaanya?
Ya, perbedaannya terletak pada proses memperoleh output-nya tersebut atau bagaimana dia mendapatkan penghasilan. Seorang entrepreuner lebih memperhatikan proses mengubah sesuatu yang kurang berharga menjadi lebih berhaga tinggi, beda dengan seorang pedagang yang hanya mengandalkan mendapatkan keuntungan dari penjualan barangnya tersebut. Ini yang harus diperhatikan.
Sehingga tidak mudah menjadi seorang entrepreuner sejati, butuh mental kuat dan tahan banting, seperti kisah laba-laba di atas. Seorang entrepreuner tidak peduli dia gagal berapa kali, yang penting bagi dia adalah berapa kali ia kembali bangkit dari kegagalannya terseut. Orang yang seperti itu sudah pasti mengetahu kelemahannya dari kegagalan-kegagalan sebelumnya, dan begitu seterusnya. Orang bermental seperti ini dapat dihitung dengan jari. Indonesia butuhy orang-orang bermental entrepreuner untuk bias keluar dan bangkit dari masalah kemiskinan dan pengangguran.
Jadi kenapa harus takut untuk kembali bangkit dari sebuah kegagalan. Kegagalan tak selamanya menghampiri kita , jika kita mampu bangkit dari itu semua. So tetap bangkit dan percaya. (REZAFETRIA

