Plato, sang matikawan
Sebagaimana titelnya, kami terpaksa mengatakan bahwa Plato adalah tokoh penghayal. Mengapa demikian? Plato, adalah seorang filosof yang berasal dari Yunani. Dia berangka dari ahli matematika sehingga tidak heran jika hasil dari pemikirannya bersifat abstrak.
Pada dasarnya Plato adalah tokoh yang mengutamakan esensi daripada zat. Menurutnya, manusia adalah hewan yang berakal. Bilamana ia tidak berakal berarti dia tidak layak disebut manusia. Baginya alam fikiran ata akal lah yang membuat manusia itu berharga sementara tubuh manusia sangat tidak berharga. Dengan demikian, pemikiran Plato sangatlah abstrak karena alam fikiran bserta isinya tidak mungkin bisa diketahui tanpa adanya realisasi melalui tubuh manusia itu sendiri.
Aristoteles, durhaka pembawa kebenaran
Siapa yang tidak tau bahwa aristoteles adalah murid dari sang penghayal yaitu Plato. Aristoteles menyanggah pendapat Plato yang mengatakan bahwa antara zat (tubuh) dan esensi (akal) adalah terpisah. Aristoteles berpendapat bahwa antara eseni dan zat adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Jika dikatan bahwa manusia adalah hewan yang berakal maka hewan yang berakal pasti disebut manusia. Menurutnya, esensi adalah tujuan dari zat. Misalnya, biji adalah esensi dari pohon. Ini berarti biji adalah esens sementara pohon adalah zat. Disini bias kita ketahui bahwa tidak mingkin ada pohon jika tidak ada biji terlebih dahulu. Dalam hal ini, zat disebut dengan potensialitas sementara esensi disebut aktualitas.
Dari adanya potensialitas ini muncullah hubungan kausalitas (sebab-akibat). Semisal adanya kursi dikarenakan ada kayu, danya alat pembentuk kau tersebut (tujuan). Ada beberapa kausalitas yang dicentuskan oleh Aristoteles:
1. Kausa materialis (adanya materi) = kayu
2. Kausa formalis (adanya ide) =pola
3. Kausa Efisian (adanya alat) =tukang
4. Kausa finalis ( tujuan akir) =meja
Dari kausa diatas, muncul suatu kesimpulan bahwa meja tidak terbentuk tanpa adanya kayu, tukang, dan ide membuat kau tersebut.
Sebagaimana titelnya, kami terpaksa mengatakan bahwa Plato adalah tokoh penghayal. Mengapa demikian? Plato, adalah seorang filosof yang berasal dari Yunani. Dia berangka dari ahli matematika sehingga tidak heran jika hasil dari pemikirannya bersifat abstrak.
Pada dasarnya Plato adalah tokoh yang mengutamakan esensi daripada zat. Menurutnya, manusia adalah hewan yang berakal. Bilamana ia tidak berakal berarti dia tidak layak disebut manusia. Baginya alam fikiran ata akal lah yang membuat manusia itu berharga sementara tubuh manusia sangat tidak berharga. Dengan demikian, pemikiran Plato sangatlah abstrak karena alam fikiran bserta isinya tidak mungkin bisa diketahui tanpa adanya realisasi melalui tubuh manusia itu sendiri.
Aristoteles, durhaka pembawa kebenaran
Siapa yang tidak tau bahwa aristoteles adalah murid dari sang penghayal yaitu Plato. Aristoteles menyanggah pendapat Plato yang mengatakan bahwa antara zat (tubuh) dan esensi (akal) adalah terpisah. Aristoteles berpendapat bahwa antara eseni dan zat adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Jika dikatan bahwa manusia adalah hewan yang berakal maka hewan yang berakal pasti disebut manusia. Menurutnya, esensi adalah tujuan dari zat. Misalnya, biji adalah esensi dari pohon. Ini berarti biji adalah esens sementara pohon adalah zat. Disini bias kita ketahui bahwa tidak mingkin ada pohon jika tidak ada biji terlebih dahulu. Dalam hal ini, zat disebut dengan potensialitas sementara esensi disebut aktualitas.
Dari adanya potensialitas ini muncullah hubungan kausalitas (sebab-akibat). Semisal adanya kursi dikarenakan ada kayu, danya alat pembentuk kau tersebut (tujuan). Ada beberapa kausalitas yang dicentuskan oleh Aristoteles:
1. Kausa materialis (adanya materi) = kayu
2. Kausa formalis (adanya ide) =pola
3. Kausa Efisian (adanya alat) =tukang
4. Kausa finalis ( tujuan akir) =meja
Dari kausa diatas, muncul suatu kesimpulan bahwa meja tidak terbentuk tanpa adanya kayu, tukang, dan ide membuat kau tersebut.


